Minggu, 07 November 2010

TAUFIK HIDAYAT RAIH GELAR SS PERTAMANYA

Taufik Hidayat berhasil mematahkan julukan spesialis ‘Runner-Up’ setelah untuk pertama kalinya ia berhasil tampil sebagai juara pada gelaran Perancis Super Series 2010. Taufik yang merupakan unggulan 2 berhasil meraih kemenangan straight set 21-16 21-11 atas unggulan 8 dari Denmark, Joachim Persson. Gelar tersebut merupakan gelar SS pertama Taufik sejak gelaran SS diselenggarakan tiga tahun lalu. Gelar tersebut sekaligus menjadi gelar kedua Indonesia di ajang SS selama tahun 2010, setelah pada Singapore SS 2010 Soni Dwi Kuncoro juga menyumbang gelar bagi Indonesia.

Langkah Joachim Persson ke babak final bisa dibilang sebagai suatu kejutan, karena di babak semifinal ia berhasil mengalahkan rekan senegaranya, yang juga merupakan unggulan 1, Peter Gade, dengan rubber set 21-14 16-21 dan 21-17. Taufik Hidayat sendiri melangkah ke babak final dengan mulus setelah mengkandaskan harapan tunggal putra Thailand unggulan 3, Boonsak Ponsana, dengan straight set 21-13 21-14.

Kalau saya lihat, permainan Joachim Persson di babak final sedikit berbeda dengan permainannya ketika mengalahkan Peter Gade di babak semifinal. Pada pertandingan final yang berlangsung tadi, tampak permainan Joachim Persson kurang berkembang dan tidak selepas pertandingan sebelumnya. Ya, mungkin bisa dibilang penampilannya mencapai antiklimaks. Mengenai penampilan Taufik Hidayat sendiri, saya pikir penampilannya cukup konsisten. Hanya saja karena faktor usia, tentu kita tidak dapat mengandalkan Taufik lagi. Perlu ada pembinaan lebih lanjut untuk menelurkan kembali tunggal putra lainnya yang bisa menggantikan posisi Taufik, bahkan Soni dan Simon, yang selama ini selalu menjadi tumpuan Indonesia.

Well, sejauh ini kita bisa melihat bahwa prestasi yang ditunjukkan Taufik setelah ia keluar dari Pelatnas tidak berbeda jauh dengan pretasinya selama bernaung di Pelatnas. Sayangnya, hal tersebut berbeda dengan yang dialami ganda putra terbaik Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan. Sejak memutuskan keluar dari Pelatnas dan menjadi pemain pro (kalau tidak salah antara akhir 2008 atau awal 2009) prestasi mereka bisa dibilang menurun. Saya sempat membaca sejumlah media dan di situ dikatakan bahwa penyebab penurunan prestasi tersebut adalah pola latihan yang tidak teratur, tidak seperti pada saat mereka masih berada di dalam Pelatnas. Saat ini Kido/Hendra seperti sering mengalami kesulitan untuk mengalahkan pemain-pemain non unggulan, yang di atas kertas seharusnya mereka mampu mengatasinya. Terakhir, yang paling menyesakkan, Kido/Hendra kalah dari pemain non unggulan asal Jerman, Ingo Kindervarter/Johannes Schottler dengan rubber set 13-21 21-17 dan 22-20 pada babak semifinal Perancis Super Series 2010. Dan sayangnya lagi, di tengah penurunan prestasi Kido/Hendra, kita belum memiliki ganda putra tangguh yang dapat menjadi andalan Indonesia. Ya, sejauh ini kita hanya bisa berharap Muhammad Ahsan/Bona Septano yang pada Indonesia GPG kemarin berhasil menjadi juara, dapat semakin mematangkan kemampuannya agar dapat menjadi andalan Indonesia selanjutnya.

Finally… meskipun Taufik sudah tidak lagi berada pada masa keemasannya dan Kido/Hendra sudah menunjukkan penurunan prestasi, semoga mereka bisa bangkit dan memberikan gelar juara bagi Indonesia pada Asian Games 2010 yang akan berlangsung sekitar 2 minggu lagi di China, di kandang macan :p.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar