Obrolan yang sangat intim terjadi antara saya dan teman-teman saya hari ini di kampus. Entah bermula dari mana, tiba-tiba pembicaraan kami mengarah pada hal-hal yang (kata orang dulu) bersifat tabu. Tapi menurut saya hal tersebut sudah tidak lagi menjadi tabu untuk diperbincangkan karena kita pun harus mengacu pada perkembangan zaman. Ya, saat ini segala hal sifatnya sudah ‘terbuka’, maka kita pun harus menambah pengetahuan kita agar tidak ‘dibodohi’ oleh kemajuan zaman :).
Saya rasa anda sudah menangkap hal tabu yang saya dan teman-teman saya bahas :p. Hmmm… supaya tidak terlalu ekstrem, saya lebih senang menyebut topik yang kami bahas tadi pagi sebagai pendidikan seks. Awalnya, mungkin bagi anda yang jarang memperoleh informasi seputar seksualitas atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan bertemakan seksualitas, anda akan merasa risih ketika membahas masalah ini. Tapi marilah kita mengambil sisi positif dari setiap pembelajaran yang kita lakukan :).
Yang ingin saya share di sini bukanlah mengenai isi pembicaraan kami (terlalu vulgar untuk diekspos, haha :p), melainkan pentingnya pendidikan seks sejak dini, terutama dari lingkup keluarga. Coba anda ingat, apakah keluarga anda pernah memberikan pendidikan seks kepada anda? Saya pernah melakukan wawancara dengan sejumlah pelajar SMA di Semarang dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak mendapat pendidikan seks dari orangtua. Sebagian besar pengetahuan mengenai seksualitas mereka peroleh dari teman dan media, seperti internet.
Kebanyakan orangtua masih menganggap bahwa membicarakan masalah seks dengan anak adalah hal yang tabu. Mereka hanya memberikan nasihat “jangan begini”, “jangan begitu”, “harus bisa menjaga pergaulan”, de el el. Ketika anak gadisnya mendapat menstruasi pertama pun, banyak ibu yang tidak mengajarkan bagaimana cara memakai pembalut yang baik. Padahal itu merupakan salah satu bentuk pendidikan seks yang paling sederhana.
Sebagian besar orangtua meyakini bahwa anak akan mengetahui sendiri hal-hal tersebut bila tiba waktunya.Namun, orangtua melupakan satu hal. Dengan membiarkan anak mencari tahu sendiri, bisa saja informasi yang diterima anak salah. Buktinya saat ini banyak remaja yang terlibat seks bebas. Hal tersebut salah satunya disebabkan kurangnya kontrol dari orangtua, yang membebaskan anak begitu saja tanpa disertai dengan pendidikan seks yang cukup.
Kawan, angka kehamilan tidak diinginkan dan aborsi di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Seharusnya hal tersebut dapat menjadi bahan telaah kita bersama: Mengapa hal itu bisa terjadi? Maraknya media yang menayangkan adegan tidak senonoh, ditambah dengan kurangnya pendidikan seks sejak dini menjadi salah satu faktor penyebab yang amat kompleks. Di sebuah TK Islam di Semarang, seorang anak TK diketahui melakukan tindakan cabul terhadap teman perempuannya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, dimana seorang anak kecil pun sudah mengenal dan melakukan ‘perilaku seksual bebas’.
Kawan, fenomena-fenomena yang terjadi saat ini terkait dengan seks bebas perlu menjadi bahan evaluasi kita semua. Seringkali orangtua merasa kesulitan menyampaikan hal yang berbau seksual kepada anak. Bagi balita, mungkin pendidikan seks dapat dilakukan dengan memperkenalkan alat kelamin mereka sendiri, mengatakan kepada anak bahwa alat kelaminnya itu tidak boleh disentuh orang lain, memberi tahu anak bahwa setiap selesai mandi ia harus menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi, dan pengenalan-pengenalan sederhana lainnya. Yang terpenting adalah orangtua harus menyesuaikan isi dan cara penyampaian sesuai dengan usia anak. Di sinilah orangtua memang perlu terlibat aktif dan bekerja keras dalam memberikan pendidikan seks pada anak sedini mungkin.
Hmmm… kawan, terus terang saya pun tidak pernah mendapat pendidikan seks dari orangtua saya di rumah. Orangtua hanya sekedar memberi nasihat dan akibat-akibat negatif bila saya melakukan hal yang buruk. Mungkin pemikiran orangtua saya juga sama dengan pemikiran orangtua-orangtua lain, dimana mereka menganggap saya akan mengetahui masalah-masalah seperti itu ketika tiba waktunya. Tapi di sini, keterbukaan orangtua berperan penting. Artinya, ada orangtua yang memang tidak memberikan pendidikan seks secara langsung, namun mereka bersikap terbuka untuk mendiskusikan hal itu dengan anak bila anak meminta. Akan tetapi, ada juga orangtua yang tidak memberikan pendidikan seks dan mereka bersikap tertutup akan hal itu, sehingga anak pun mungkin merasa takut untuk mendiskusikannya dengan orangtua. Akibatnya, anak memilih untuk membicarakannya bersama teman dan apabila informasi yang diterima ternyata salah, maka tidak menutup kemungkinan anak akan melakukan perbuatan menyimpang.
Dan orangtua saya melakukan hal yang pertama: tetap bersikap terbuka. Tapi saya pernah melakukan wawancara dengan sejumlah remaja, dimana mereka mengatakan bahwa orangtua mereka bersikap tertutup terhadap hal-hal yang berbau seksual. Tapi remaja tersebut menyadari bahwa seks bebas adalah sesuatu yang haram. Nah, di sini kita menemukan fakta bahwa selain pendidikan seks dan keterbukaan keluarga, pendidikan agama dan kesadaran diri sendiri juga menjadi kunci untuk menjauhkan diri dari seks bebas.
Kawan, menurut saya membaca buku ataupun artikel seputar seksualitas bukanlah hal yang tabu ataupun memalukan selagi kita mampu membentengi diri kita dengan iman yang kuat (soalnya bahaya juga kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan :p). Saya cukup sering membaca hal-hal seperti itu dan terlibat diskusi dengan teman-teman saya. Ya… tujuannya sih untuk menambah pengetahuan agar tidak seperti orang ‘polos’ yang mudah ‘dikerjai’ :p.
Jadi, pendidikan seks bukanlah hal yang tabu, tetapi memang perlu dan sangat dibutuhkan. Janganlah membatasi diri kita untuk belajar dan mengetahui banyak hal. Pelajarilah semua hal yang dapat dipelajari dan ambillah nilai positif dari setiap pembelajaran yang kita lakukan :).
hahahahaha..
BalasHapusdian udah gedhe...