Let’s start the story!
Hari sabtu kemarin, saya ke swalayan ADA di Majapahit untuk mentransfer sejumlah uang. Saat saya sedang mengantri di depan ATM, datang seorang cowok menghampiri saya. Ya… dilihat dari penampilannya sih sepertinya dia juga mahasiswa sama seperti saya. Lalu cowok tersebut mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya. Saya pikir dia juga sedang mengantri di ATM yang sama dengan saya. Tak lama kemudian cowok tersebut bertanya kepada saya.
“Mbak, kalau mall yang deket sini selain mall ini dimana ya?”
Saya agak kaget juga. ADA kok dibilang mall ya? Hehe :p.
“Emmm… yang deket sini paling di Simpang Lima, Mas,” jawab saya.
“Kalau dari sini jauh nggak Mbak? Saya dari Bengkulu soalnya.”
“Nggak sih Mas. Cuma sekitar 20 menit. Kalau naik angkot Cuma sekali kok.”
“Kalau mall yang ada pamerannya dimana ya Mbak?”
Saya berpikir sejenak. Emang ada mall yang lagi ngadain pameran ya?
“Ooo… mungkin di Java, Mas…” jawab saya mengira-ngira. Di pikiran saya saat itu mungkin cowok itu nanyain pameran komputer (padahal seingat saya pameran komputernya sudah selesai, hehe).
“Kalau dari sini jauh nggak Mbak?”
“Ya… sekitar 20 menit. Tapi saya kurang tahu kalau naik angkot gimana, hehe…”
“Oooo gitu ya Mbak? Yauda makasih ya Mbak…” kata cowok itu berlalu pergi sambil terus berkonsentrasi dengan Hpnya. Yang saya heran, cowok itu bertanya pada saya kayak kurang antusias, nggak kelihatan seperti orang yang niat nanya. Tapi yaudalah… saya nggak terlalu memusingkannya.
Setelah cowok itu pergi saya segera masuk ke ATM dan sekilas saya sempat melihat cowok itu berdiri tidak jauh dari ATM. Sekitar dua meterlah kira-kira.
Ketika keluar dari ATM, saya sudah tidak melihat cowok tadi. Saya sempat heran juga sih. Perasaan cowok tadi sudah ngeluarin kartu ATMnya. Tapi kok nggak jadi masuk ke ATM ya? Namun lantas saya berpikir mungkin dia sudah pergi ke mall yang dia cari tadi.
Ketika saya masuk kembali ke dalam ADA, tiba-tiba cowok tadi mencegat saya. Kaget juga sih! Nih cowok kok masih berkeliaran di sini, hehe. Bisa pas gitu lagi ketemu sama saya!
“Emmm… Mbak, maaf sebelumnya,” kata cowok itu.
“Iya, Mas, kenapa?” tanya saya.
“Gini Mbak, saya kan mahasiswa dari Bengkulu. Saya ke sini mau ke pameran barang-barang prasejarah. Dari bandara saya tanya katanya tempatnya di sini. Tapi saya sudah keliling nggak ketemu…”
Wow! Sempet takjub juga nih! Saya pikir cowok itu jauh-jauh dari Bengkulu ke Semarang ingin menuntut ilmu dengan mengunjungi pameran barang-barang prasejarah, hehe.
“Memang alamatnya dimana, Mas?”
“Di jalan Sultan Agung, Mbak. Tapi saya sudah tanya ke orang-orang katanya di sini nggak ada jalan Sultan Agung…”
Seingat saya jalan Sultan Agung itu daerah SMP 5 dan SMP Ibu Kartini. Tapi saya lupa-lupa ingat juga. Lagian di daerah Sultan Agung situ emang ada tempat pameran? Barang-barang prasejarah pula! Jadi saya cuma bisa berkata,”Oh… gitu ya, Mas?”
“Iya, Mbak, saya sudah tanya banyak orang tapi nggak ada yang tahu. Saya boleh minta tolong lagi nggak Mbak?”
“Minta tolong apa, Mas?” jujur di sini saya sudah merasa kurang nyaman. Pikiran saya sudah aneh-aneh deh pokoknya! Tapi saya kok kasihan juga sama cowok itu. Mau langsung pergi, tapi nggak tega.
“Mbak bisa bahasa jawa kan?”
“Iya,” padahal saya nggak yakin juga bisa apa nggak, hehe.
“Mbak, bisa nggak bantu saya tanya? Mbak kan cewek, nggak akan dicurigai orang-orang…”
Sempet bingung juga sih, maksudnya ‘nggak akan dicurigai” itu apa. Tapi yasudalah. Toh, cuma bantu nanyain ke orang. Habis itu kan saya bisa langsung pergi.
Cowok itu kemudian memanggil seorang bapak-bapak yang berdiri nggak jauh dari posisi kami. Begitu bapak itu membalikkan badannya… wow! Kesan pertama yang saya tangkap, bapak itu seperti orang li**k dan ja**t. Tapi saya mencoba berpikiran positif. Mungkin hatinya selembut sutra, hahaha :p.
Kemudian saya membantu cowok itu bertanya.
“Maaf Pak, ini Masnya mau nanya kalo jalan Sultan Agung dimana, ya?”
“Oh, jalan Sultan Agung nggak ada,” jawab si bapak.
Kok bisa pas kebetulan ya si bapak ini juga bilang jalan Sultan Agung nggak ada. Padahal seingat saya sih ada. Tapi karena nggak terlalu yakin saya memilih diam.
“Kalo tempat pameran… pameran apa Mas?”
“Pameran barang-barang…”
Belum si cowok itu selesai ngomong, si bapak tadi sudah menyahut,”Oh, kalau barang-barang gitu di Citra Land mungkin. Kemarin saya ke sana ada pameran keramik…”
“Bukan keramik, Pak,” sahut saya.
“Barang-barang prasejarah, Pak,” kata si cowok tadi.
“Iya, Pak. Katanya Masnya alamatnya di jalan Sultan Agung,” sambung saya.
“Nggak ada jalan Sultan Agung di sini. Kalo pameran barang-barang sejarah itu di Kali Banteng mungkin. Di museum Ronggo Warsito…”
“Oh…” saya manggut-manggut.
“Tapi kalau masuk ke sana harus lewat pemerintah dulu. Barang-barang di sana berharga semua,”kata si bapak.
Saya yang nggak ngerti apa-apa cuma ngangguk-ngangguk aja. Sempet terpikir buat pergi dari situ, tapi kok kayaknya kisah cowok tadi seru… jadi saya memutuskan untuk stay di situ sebentar, hehe.
“Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Adek ke sana?” tanya si bapak.
“Eeee… sebelumnya maaf ya Pak, Mbak. Sebenarnya seminggu yang lalu kakek saya baru meninggal. Saya sebagai cucu tertua di beri amanah oleh kakek saya untuk mengembalikan barang prasejarah ke sini.”
“Oh… Adek sendirian ke sini? Disuruh mengembalikan barang prasejarah?” si bapak langsung heboh.
“Iya, Pak…”
“Maaf, kalau boleh tahu barang apa yang mau Adek kembalikan?” tanya si bapak.
Cowok tadi langsung mengecilkan suara,”itu Pak, batu mustika maharani. Mungkin Bapak pernah dengar?”
“Oooo ya ya! Saya pernah dengar itu! Batu yang kalau dimasukkan dalam air bisa berubah warna?”
“Iya, Pak…”
“Yang bisa menyembuhkan orang sakit kan?”
“Iya, Pak…”
“Subhanallah! Batu itu ada di kamu Dek? Hati-hati loh! Untung kamu tidak salah tanya orang. Coba kalau kamu tanya sama orang yang berniat jahat, bisa kenapa-napa itu!” si bapak berkata dengan menggebu-gebu.
Saya hanya menjadi pengamat percakapan di antara mereka berdua. Makin seru sepertinya, hahaha.
“Begini saja, saya bisa bantu kamu. Nanti saya kasih tahu denahnya. Tapi bisa saya liat dulu barangnya? Kalau benar kan nanti saya bisa bantu masukan ke museum,” kata si bapak.
Cowok itu tampak sedikit keberatan untuk memperlihatkan batu mustika maharani itu.
“Maaf, Pak, tapi saya nggak berani…”
“Nggak apa-apa. Kita ke restoran di belakang situ. Ada kakak saya juga menunggu di sana,”ujar sang bapak.
Di sini perasaan saya mulai nggak enak. Haduh! Jangan-jangan nanti cowok itu mau minta saya nemenin dia lagi!
Dan ternyata benar!
“Mbak, saya bisa minta tolong lagi nggak? Mbak bisa nemenin saya nunjukin barang ini ke bapaknya? Sampai saya dapat denahnya saja…” kata si cowok.
Ya ampun!!! Sumpah! Saya langsung mikir macem-macem. Ada dua laki-laki tidak saya kenal dan saya perempuan seorang diri. Lalu mereka mengajak saya pergi bersama mereka. Kepala saya langsung dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Saya pun langsung menolak permintaan cowok itu.
“Aduh, maaf ya, Mas. Saya buru-buru…”
“Bentar saja Mbak, paling cuma sepuluh menit. Siapa tahu kita bisa dapat hikmah dari semua ini,”paksa si bapak.
“Aduh maaf ya, Pak. Saya nggak bisa. Kenapa Masnya nggak naik taksi aja terus minta dianter ke museum itu?” saya mencoba menawarkan solusi.
Eh… si bapak langsung menyahut,”Bahaya itu, Mbak. Orang museum itu jangan dikira… kalau mereka tahu itu batu sakti, bisa dimainin sama mereka itu, Mbak. Kalau sama saya kan nanti saya bisa bantu masukan…”
“Ooo… iya tapi saya nggak bisa…”
“Emang Mbaknya mau kemana?” tanya si bapak.
“Saya ada janji sama dosen,” kata saya berbohong. Kebohongan yang janggal sebenarnya, haha.
“Yauda, kalau Mbaknya nggak bisa juga nggak apa-apa,” kata cowok tadi.
Kalau si cowok sih biasa-biasa aja. Tapi malah si bapaknya nih yang lama-lama terkesan memaksa, bikin saya makin yakin jangan-jangan mereka komplotan penja**t.
Saya pun memutuskan untuk langsung segera pergi.
“Maaf, ya, Mas, saya harus pergi…”
“Oh, iya, Mbak. Boleh minta nomer teleponnya kalau suatu saat saya butuh?”
Bagian ini yang saya sesalkan. Dengan bodoh saya memberikan nomer HP saya dan berbasa-basi,”kalau ada apa-apa hubungi saya saja, Mas…”
Ggggrrrr… berasa bego banget deh! Habisnya saya ngerasa kasihan sama cowok itu -,-.
Saya pun langsung menuju ke parkiran belakang dan mereka berjalan ke pintu depan. Sepanjang jalan menuju parkiran kaki saya gemeteran dan baru menyadari kok bisa-bisanya saya terlibat percakapan ‘aneh’ tadi.
Sampai di mobil, saya langsung menelepon Mita, sahabat saya yang pernah tinggal lama di Bengkulu. Saya menceritakan kejadian yang baru saya alami dan menanyakan apakah ada batu mustika maharani. Dan Mita mengatakan tidak ada! Dia pun mengatakan jangan-jangan dua orang tadi mau menghipnotis saya! Oh, God! Baru kepikiran saya! Bukannya mau berburuk sangka, tapi setelah saya ingat-ingat memang banyak kejanggalan yang saya temui tadi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mencoba mengingat-ingat apakah tadi saya sadar sepenuhnya atau tidak. Saya langsung mengecek tas dan memastikan dompet saya masih ada. Lalu saya mengecek isinya dan ternyata semua masih utuh.
Sesampainya di rumah, saya menceritakan kejadian yang saya alami dan ayah saya hanya bisa berkata,”Kak… Kak… Kakak tuh masih terlalu polos…”
Sing…….. krik….. krik…..
Iya, ya… berasa polos banget deh tadi! Setelah saya googling pun, ternyata nggak ada tuh yang namanya batu mustika maharani sebagai barang peninggalan sejarah.
Oh, iyaaa dan saya lupa memastikan bahwa uang di ATM saya masih utuh atau tidak! Siapa tahu kan tanpa saya sadari cowok itu menghipnotis saya (walaupun kata dosen saya, seseorang tidak akan bisa dihipnotis kalau tidak mau, tapi siapa tahu cowok tadi punya ilmu apa gituuu). Tapi untung, semua masih utuh :).
Well… inilah sebuah pelajaran hidup bagi saya dan semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua.
Kejanggalan-kejanggalan yang saya temui:
- Si cowok tadi ngutak-ngatik HP terus. Nanya juga kayak nggak niat nanya gitu. Mungkin dia lagi koordinasi sama temannya kali ya :p.
- Kok bisa pas ya, pas saya masuk ADA, cowok itu juga sudah ada di situ, nyegat saya, seakan-akan tahu kalau saya bakal masuk ke dalam. Kalau kata ibu saya, mungkin saja cowok tadi sudah mengintai saya dari sejak saya parkir.
- Si bapak yang dipanggil sama cowok itu jelas-jelas bukan orang Jawa. Dari logatnya sih seperti orang Sumatera atau Sulawesi gitu. Padahal kan tadi cowok itu minta bantuan saya karena dia tidak bisa berbahasa Jawa. Tapi orang yang ditanyain malah bukan orang Jawa. Entah itu suatu kebetulan atau memang mereka satu komplotan, Allahualam.
- Bapak itu kok bisa kebetulan banget tahu banyak tentang batu mustika maharani itu. Pake acara bilang bisa bantu masukin ke museum lagi! Aneh banget!
- Kalau emang itu barang peninggalan prasejarah, kenapa harus jauh-jauh ke Semarang? Kan di Bengkulu juga ada museum.
- Saya tanya sahabat saya yang lama tinggal di Bengkulu dan saya pun googling tentang batu mustika maharani itu, tapi tidak ada tanda-tanda kalau batu itu pernah ada di bumi ini, hehe.
- Yang paling aneh nih ya... katanya si cowok tadi sudah nanya sama banyak orang tentang jalan Sultan Agung. Yang saya heran, kok bisa nggak ada satu pun yang tahu. dan justru malah bilang kalau jalan itu nggak ada. Lebih aneh lagi, bapak itu juga bilang nggak ada jalan Sultan Agung. Saya saja yang bukan orang Semarang dan nggak begitu hapal jalan tahu. Ckckck...
Oh, iya, satu lagi pesan ayah saya: jangan ngasih nomer HP dan terlalu baik sama orang yang tidak dikenal!
Dan maaf kalau cerita saya terlalu panjang ^^.