Minggu, 07 November 2010

TAUFIK HIDAYAT RAIH GELAR SS PERTAMANYA

Taufik Hidayat berhasil mematahkan julukan spesialis ‘Runner-Up’ setelah untuk pertama kalinya ia berhasil tampil sebagai juara pada gelaran Perancis Super Series 2010. Taufik yang merupakan unggulan 2 berhasil meraih kemenangan straight set 21-16 21-11 atas unggulan 8 dari Denmark, Joachim Persson. Gelar tersebut merupakan gelar SS pertama Taufik sejak gelaran SS diselenggarakan tiga tahun lalu. Gelar tersebut sekaligus menjadi gelar kedua Indonesia di ajang SS selama tahun 2010, setelah pada Singapore SS 2010 Soni Dwi Kuncoro juga menyumbang gelar bagi Indonesia.

Langkah Joachim Persson ke babak final bisa dibilang sebagai suatu kejutan, karena di babak semifinal ia berhasil mengalahkan rekan senegaranya, yang juga merupakan unggulan 1, Peter Gade, dengan rubber set 21-14 16-21 dan 21-17. Taufik Hidayat sendiri melangkah ke babak final dengan mulus setelah mengkandaskan harapan tunggal putra Thailand unggulan 3, Boonsak Ponsana, dengan straight set 21-13 21-14.

Kalau saya lihat, permainan Joachim Persson di babak final sedikit berbeda dengan permainannya ketika mengalahkan Peter Gade di babak semifinal. Pada pertandingan final yang berlangsung tadi, tampak permainan Joachim Persson kurang berkembang dan tidak selepas pertandingan sebelumnya. Ya, mungkin bisa dibilang penampilannya mencapai antiklimaks. Mengenai penampilan Taufik Hidayat sendiri, saya pikir penampilannya cukup konsisten. Hanya saja karena faktor usia, tentu kita tidak dapat mengandalkan Taufik lagi. Perlu ada pembinaan lebih lanjut untuk menelurkan kembali tunggal putra lainnya yang bisa menggantikan posisi Taufik, bahkan Soni dan Simon, yang selama ini selalu menjadi tumpuan Indonesia.

Well, sejauh ini kita bisa melihat bahwa prestasi yang ditunjukkan Taufik setelah ia keluar dari Pelatnas tidak berbeda jauh dengan pretasinya selama bernaung di Pelatnas. Sayangnya, hal tersebut berbeda dengan yang dialami ganda putra terbaik Indonesia, Markis Kido/Hendra Setiawan. Sejak memutuskan keluar dari Pelatnas dan menjadi pemain pro (kalau tidak salah antara akhir 2008 atau awal 2009) prestasi mereka bisa dibilang menurun. Saya sempat membaca sejumlah media dan di situ dikatakan bahwa penyebab penurunan prestasi tersebut adalah pola latihan yang tidak teratur, tidak seperti pada saat mereka masih berada di dalam Pelatnas. Saat ini Kido/Hendra seperti sering mengalami kesulitan untuk mengalahkan pemain-pemain non unggulan, yang di atas kertas seharusnya mereka mampu mengatasinya. Terakhir, yang paling menyesakkan, Kido/Hendra kalah dari pemain non unggulan asal Jerman, Ingo Kindervarter/Johannes Schottler dengan rubber set 13-21 21-17 dan 22-20 pada babak semifinal Perancis Super Series 2010. Dan sayangnya lagi, di tengah penurunan prestasi Kido/Hendra, kita belum memiliki ganda putra tangguh yang dapat menjadi andalan Indonesia. Ya, sejauh ini kita hanya bisa berharap Muhammad Ahsan/Bona Septano yang pada Indonesia GPG kemarin berhasil menjadi juara, dapat semakin mematangkan kemampuannya agar dapat menjadi andalan Indonesia selanjutnya.

Finally… meskipun Taufik sudah tidak lagi berada pada masa keemasannya dan Kido/Hendra sudah menunjukkan penurunan prestasi, semoga mereka bisa bangkit dan memberikan gelar juara bagi Indonesia pada Asian Games 2010 yang akan berlangsung sekitar 2 minggu lagi di China, di kandang macan :p.

Minggu, 31 Oktober 2010

TRAGEDI 30 OKTOBER 2010

Sebelumnya maaf kalau setelah anda selesai membaca tulisan ini, anda merasa bahwa judul yang saya berikan terlalu lebay, haha :p.

Let’s start the story!

Hari sabtu kemarin, saya ke swalayan ADA di Majapahit untuk mentransfer sejumlah uang. Saat saya sedang mengantri di depan ATM, datang seorang cowok menghampiri saya. Ya… dilihat dari penampilannya sih sepertinya dia juga mahasiswa sama seperti saya. Lalu cowok tersebut mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya. Saya pikir dia juga sedang mengantri di ATM yang sama dengan saya. Tak lama kemudian cowok tersebut bertanya kepada saya.

“Mbak, kalau mall yang deket sini selain mall ini dimana ya?”

Saya agak kaget juga. ADA kok dibilang mall ya? Hehe :p.

“Emmm… yang deket sini paling di Simpang Lima, Mas,” jawab saya.

“Kalau dari sini jauh nggak Mbak? Saya dari Bengkulu soalnya.”

“Nggak sih Mas. Cuma sekitar 20 menit. Kalau naik angkot Cuma sekali kok.”

“Kalau mall yang ada pamerannya dimana ya Mbak?”

Saya berpikir sejenak. Emang ada mall yang lagi ngadain pameran ya?

“Ooo… mungkin di Java, Mas…” jawab saya mengira-ngira. Di pikiran saya saat itu mungkin cowok itu nanyain pameran komputer (padahal seingat saya pameran komputernya sudah selesai, hehe).

“Kalau dari sini jauh nggak Mbak?”

“Ya… sekitar 20 menit. Tapi saya kurang tahu kalau naik angkot gimana, hehe…”

“Oooo gitu ya Mbak? Yauda makasih ya Mbak…” kata cowok itu berlalu pergi sambil terus berkonsentrasi dengan Hpnya. Yang saya heran, cowok itu bertanya pada saya kayak kurang antusias, nggak kelihatan seperti orang yang niat nanya. Tapi yaudalah… saya nggak terlalu memusingkannya.

Setelah cowok itu pergi saya segera masuk ke ATM dan sekilas saya sempat melihat cowok itu berdiri tidak jauh dari ATM. Sekitar dua meterlah kira-kira.

Ketika keluar dari ATM, saya sudah tidak melihat cowok tadi. Saya sempat heran juga sih. Perasaan cowok tadi sudah ngeluarin kartu ATMnya. Tapi kok nggak jadi masuk ke ATM ya? Namun lantas saya berpikir mungkin dia sudah pergi ke mall yang dia cari tadi.

Ketika saya masuk kembali ke dalam ADA, tiba-tiba cowok tadi mencegat saya. Kaget juga sih! Nih cowok kok masih berkeliaran di sini, hehe. Bisa pas gitu lagi ketemu sama saya!

“Emmm… Mbak, maaf sebelumnya,” kata cowok itu.

“Iya, Mas, kenapa?” tanya saya.

“Gini Mbak, saya kan mahasiswa dari Bengkulu. Saya ke sini mau ke pameran barang-barang prasejarah. Dari bandara saya tanya katanya tempatnya di sini. Tapi saya sudah keliling nggak ketemu…”

Wow! Sempet takjub juga nih! Saya pikir cowok itu jauh-jauh dari Bengkulu ke Semarang ingin menuntut ilmu dengan mengunjungi pameran barang-barang prasejarah, hehe.

“Memang alamatnya dimana, Mas?”

“Di jalan Sultan Agung, Mbak. Tapi saya sudah tanya ke orang-orang katanya di sini nggak ada jalan Sultan Agung…”

Seingat saya jalan Sultan Agung itu daerah SMP 5 dan SMP Ibu Kartini. Tapi saya lupa-lupa ingat juga. Lagian di daerah Sultan Agung situ emang ada tempat pameran? Barang-barang prasejarah pula! Jadi saya cuma bisa berkata,”Oh… gitu ya, Mas?”

“Iya, Mbak, saya sudah tanya banyak orang tapi nggak ada yang tahu. Saya boleh minta tolong lagi nggak Mbak?”

“Minta tolong apa, Mas?” jujur di sini saya sudah merasa kurang nyaman. Pikiran saya sudah aneh-aneh deh pokoknya! Tapi saya kok kasihan juga sama cowok itu. Mau langsung pergi, tapi nggak tega.

“Mbak bisa bahasa jawa kan?”

“Iya,” padahal saya nggak yakin juga bisa apa nggak, hehe.

“Mbak, bisa nggak bantu saya tanya? Mbak kan cewek, nggak akan dicurigai orang-orang…”

Sempet bingung juga sih, maksudnya ‘nggak akan dicurigai” itu apa. Tapi yasudalah. Toh, cuma bantu nanyain ke orang. Habis itu kan saya bisa langsung pergi.

Cowok itu kemudian memanggil seorang bapak-bapak yang berdiri nggak jauh dari posisi kami. Begitu bapak itu membalikkan badannya… wow! Kesan pertama yang saya tangkap, bapak itu seperti orang li**k dan ja**t. Tapi saya mencoba berpikiran positif. Mungkin hatinya selembut sutra, hahaha :p.

Kemudian saya membantu cowok itu bertanya.

“Maaf Pak, ini Masnya mau nanya kalo jalan Sultan Agung dimana, ya?”

“Oh, jalan Sultan Agung nggak ada,” jawab si bapak.

Kok bisa pas kebetulan ya si bapak ini juga bilang jalan Sultan Agung nggak ada. Padahal seingat saya sih ada. Tapi karena nggak terlalu yakin saya memilih diam.

“Kalo tempat pameran… pameran apa Mas?”

“Pameran barang-barang…”
Belum si cowok itu selesai ngomong, si bapak tadi sudah menyahut,”Oh, kalau barang-barang gitu di Citra Land mungkin. Kemarin saya ke sana ada pameran keramik…”

“Bukan keramik, Pak,” sahut saya.

“Barang-barang prasejarah, Pak,” kata si cowok tadi.

“Iya, Pak. Katanya Masnya alamatnya di jalan Sultan Agung,” sambung saya.

“Nggak ada jalan Sultan Agung di sini. Kalo pameran barang-barang sejarah itu di Kali Banteng mungkin. Di museum Ronggo Warsito…”

“Oh…” saya manggut-manggut.

“Tapi kalau masuk ke sana harus lewat pemerintah dulu. Barang-barang di sana berharga semua,”kata si bapak.

Saya yang nggak ngerti apa-apa cuma ngangguk-ngangguk aja. Sempet terpikir buat pergi dari situ, tapi kok kayaknya kisah cowok tadi seru… jadi saya memutuskan untuk stay di situ sebentar, hehe.

“Kalau boleh tahu ada perlu apa ya Adek ke sana?” tanya si bapak.

“Eeee… sebelumnya maaf ya Pak, Mbak. Sebenarnya seminggu yang lalu kakek saya baru meninggal. Saya sebagai cucu tertua di beri amanah oleh kakek saya untuk mengembalikan barang prasejarah ke sini.”

“Oh… Adek sendirian ke sini? Disuruh mengembalikan barang prasejarah?” si bapak langsung heboh.

“Iya, Pak…”

“Maaf, kalau boleh tahu barang apa yang mau Adek kembalikan?” tanya si bapak.

Cowok tadi langsung mengecilkan suara,”itu Pak, batu mustika maharani. Mungkin Bapak pernah dengar?”
 
“Oooo ya ya! Saya pernah dengar itu! Batu yang kalau dimasukkan dalam air bisa berubah warna?”

“Iya, Pak…”

“Yang bisa menyembuhkan orang sakit kan?”

“Iya, Pak…”

“Subhanallah! Batu itu ada di kamu Dek? Hati-hati loh! Untung kamu tidak salah tanya orang. Coba kalau kamu tanya sama orang yang berniat jahat, bisa kenapa-napa itu!” si bapak berkata dengan menggebu-gebu.

Saya hanya menjadi pengamat percakapan di antara mereka berdua. Makin seru sepertinya, hahaha.

“Begini saja, saya bisa bantu kamu. Nanti saya kasih tahu denahnya. Tapi bisa saya liat dulu barangnya? Kalau benar kan nanti saya bisa bantu masukan ke museum,” kata si bapak.

Cowok itu tampak sedikit keberatan untuk memperlihatkan batu mustika maharani itu.

“Maaf, Pak, tapi saya nggak berani…”

“Nggak apa-apa. Kita ke restoran di belakang situ. Ada kakak saya juga menunggu di sana,”ujar sang bapak.

Di sini perasaan saya mulai nggak enak. Haduh! Jangan-jangan nanti cowok itu mau minta saya nemenin dia lagi!

Dan ternyata benar!

“Mbak, saya bisa minta tolong lagi nggak? Mbak bisa nemenin saya nunjukin barang ini ke bapaknya? Sampai saya dapat denahnya saja…” kata si cowok.

Ya ampun!!! Sumpah! Saya langsung mikir macem-macem. Ada dua laki-laki tidak saya kenal dan saya perempuan seorang diri. Lalu mereka mengajak saya pergi bersama mereka. Kepala saya langsung dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Saya pun langsung menolak permintaan cowok itu.

“Aduh, maaf ya, Mas. Saya buru-buru…”

“Bentar saja Mbak, paling cuma sepuluh menit. Siapa tahu kita bisa dapat hikmah dari semua ini,”paksa si bapak.

“Aduh maaf ya, Pak. Saya nggak bisa. Kenapa Masnya nggak naik taksi aja terus minta dianter ke museum itu?” saya mencoba menawarkan solusi.

Eh… si bapak langsung menyahut,”Bahaya itu, Mbak. Orang museum itu jangan dikira… kalau mereka tahu itu batu sakti, bisa dimainin sama mereka itu, Mbak. Kalau sama saya kan nanti saya bisa bantu masukan…”

“Ooo… iya tapi saya nggak bisa…”

“Emang Mbaknya mau kemana?” tanya si bapak.
 
“Saya ada janji sama dosen,” kata saya berbohong. Kebohongan yang janggal sebenarnya, haha.

“Yauda, kalau Mbaknya nggak bisa juga nggak apa-apa,” kata cowok tadi.

Kalau si cowok sih biasa-biasa aja. Tapi malah si bapaknya nih yang lama-lama terkesan memaksa, bikin saya makin yakin jangan-jangan mereka komplotan penja**t.

Saya pun memutuskan untuk langsung segera pergi.

“Maaf, ya, Mas, saya harus pergi…”

“Oh, iya, Mbak. Boleh minta nomer teleponnya kalau suatu saat saya butuh?”

Bagian ini yang saya sesalkan. Dengan bodoh saya memberikan nomer HP saya dan berbasa-basi,”kalau ada apa-apa hubungi saya saja, Mas…”

Ggggrrrr… berasa bego banget deh! Habisnya saya ngerasa kasihan sama cowok itu -,-.

Saya pun langsung menuju ke parkiran belakang dan mereka berjalan ke pintu depan. Sepanjang jalan menuju parkiran kaki saya gemeteran dan baru menyadari kok bisa-bisanya saya terlibat percakapan ‘aneh’ tadi.

Sampai di mobil, saya langsung menelepon Mita, sahabat saya yang pernah tinggal lama di Bengkulu. Saya menceritakan kejadian yang baru saya alami dan menanyakan apakah ada batu mustika maharani. Dan Mita mengatakan tidak ada! Dia pun mengatakan jangan-jangan dua orang tadi mau menghipnotis saya! Oh, God! Baru kepikiran saya! Bukannya mau berburuk sangka, tapi setelah saya ingat-ingat memang banyak kejanggalan yang saya temui tadi.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mencoba mengingat-ingat apakah tadi saya sadar sepenuhnya atau tidak. Saya langsung mengecek tas dan memastikan dompet saya masih ada. Lalu saya mengecek isinya dan ternyata semua masih utuh.

Sesampainya di rumah, saya menceritakan kejadian yang saya alami dan ayah saya hanya bisa berkata,”Kak… Kak… Kakak tuh masih terlalu polos…”

Sing…….. krik….. krik…..

Iya, ya… berasa polos banget deh tadi! Setelah saya googling pun, ternyata nggak ada tuh yang namanya batu mustika maharani sebagai barang peninggalan sejarah.

Oh, iyaaa dan saya lupa memastikan bahwa uang di ATM saya masih utuh atau tidak! Siapa tahu kan tanpa saya sadari cowok itu menghipnotis saya (walaupun kata dosen saya, seseorang tidak akan bisa dihipnotis kalau tidak mau, tapi siapa tahu cowok tadi punya ilmu apa gituuu). Tapi untung, semua masih utuh :).

Well… inilah sebuah pelajaran hidup bagi saya dan semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua.

Kejanggalan-kejanggalan yang saya temui:
  1. Si cowok tadi ngutak-ngatik HP terus. Nanya juga kayak nggak niat nanya gitu. Mungkin dia lagi koordinasi sama temannya kali ya :p.
  2. Kok bisa pas ya, pas saya masuk ADA, cowok itu juga sudah ada di situ, nyegat saya, seakan-akan tahu kalau saya bakal masuk ke dalam. Kalau kata ibu saya, mungkin saja cowok tadi sudah mengintai saya dari sejak saya parkir.
  3. Si bapak yang dipanggil sama cowok itu jelas-jelas bukan orang Jawa. Dari logatnya sih seperti orang Sumatera atau Sulawesi gitu. Padahal kan tadi cowok itu minta bantuan saya karena dia tidak bisa berbahasa Jawa. Tapi orang yang ditanyain malah bukan orang Jawa. Entah itu suatu kebetulan atau memang mereka satu komplotan, Allahualam.
  4. Bapak itu kok bisa kebetulan banget tahu banyak tentang batu mustika maharani itu. Pake acara bilang bisa bantu masukin ke museum lagi! Aneh banget!
  5. Kalau emang itu barang peninggalan prasejarah, kenapa harus jauh-jauh ke Semarang? Kan di Bengkulu juga ada museum.
  6. Saya tanya sahabat saya yang lama tinggal di Bengkulu dan saya pun googling tentang batu mustika maharani itu, tapi tidak ada tanda-tanda kalau batu itu pernah ada di bumi ini, hehe.
  7. Yang paling aneh nih ya... katanya si cowok tadi sudah nanya sama banyak orang tentang jalan Sultan Agung. Yang saya heran, kok bisa nggak ada satu pun yang tahu. dan justru malah bilang kalau jalan itu nggak ada. Lebih aneh lagi, bapak itu juga bilang nggak ada jalan Sultan Agung. Saya saja yang bukan orang Semarang dan nggak begitu hapal jalan tahu. Ckckck...
Oh, iya, satu lagi pesan ayah saya: jangan ngasih nomer HP dan terlalu baik sama orang yang tidak dikenal!

Dan maaf kalau cerita saya terlalu panjang ^^.

Selasa, 12 Oktober 2010

REZEKI YANG TAK TERNILAI

Hari Minggu kemarin saya menonton acara Golden Ways yang dibawakan oleh Mario Teguh. Beliau menanyakan,"apa rezeki yang tidak ternilai harganya?".

Hmmm... kira-kira apa jawaban anda? Sebagian besar penonton yang hadir di studio menjawab kesehatan. Saya pun berpikir demikian. Tapi ternyata jawaban itu salah. Karena jawaban yang benar adalah IMAN.

Ya, rezeki yang diberikan Tuhan kepada kita, yang tak ternilai harganya adalah IMAN. Apapun keadaan anda, susah-senang, sakit-sehat, dengan iman anda pasti dapat melaluinya dengan selalu bersyukur dan mengingat Tuhan. Namun, tanpa iman, mungkin anda akan selalu merasa kurang dengan apa yang anda miliki sekarang. Maka bersyukurlah anda yang masih memiliki keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (that's just my opinion :p).

Bagaimana cara agar kita dapat selalu bersyukur? Ingatlah bahwa semua hal yang kita miliki saat ini, baik kebahagiaan ataupun penderitaan, semua itu adalah rezeki. Dengan demikian, kita akan selalu menerima semuanya dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Tidak semua penderitaan  buruk dan menyedihkan. Adakalanya penderitaan itu adalah ladang kebahagiaan. Sebaliknya, tidak semua kebahagiaan  menyenangkan. Adakalanya kebahagiaan itu menjadi sumber kesengsaraan manakala kita tidak dapat memaknainya dengan bijak.

Jadi, syukurilah apa yang kita miliki saat ini dengan penuh keimanan terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta :).

STRES, SALAH SATU KUNCI UNTUK BERHASIL

Setiap orang pasti pernah mengalami stres, termasuk anda bukan? Seberapa sering anda mengalami stres? Situasi-situasi apa saja yang membuat anda menjadi stres? Bagaimana anda mengatasi rasa stres anda? Percayakah anda bahwa stres (menurut saya) adalah salah satu kunci keberhasilan? Percaya atau tidak percaya itu adalah hak anda. Saya hanya mencoba mengungkapkannya dari sudut pandang saya saja :).

Kawan, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan stres? Dari beberapa definisi para ahli, saya mencoba menyimpulkan bahwa stres merupakan tekanan atau tuntutan pada seseorang untuk beradaptasi atau menyelaraskan diri dengan lingkungan sehingga memiliki efek fisik dan psikis serta dapat membuat perasaan positif atau negatif. Atau mungkin gampangannya seperti ini: stres merupakan interaksi antara kemampuan pemecahan masalah seseorang dengan tuntutan lingkungan yang dianggap sebagai suatu bahaya atau ancaman.

Nah, stres itu ada dua jenis, yaitu stres negatif (disstres) dan stres positif (eustres). Stres negatif terjadi ketika seseorang tidak mampu menghadapi tekanan, sedangkan stres positif terjadi ketika seseorang memberikan respon yang adaptif terhadap tekanan.

Masih bingung? Agar lebih jelas, coba saya berikan contoh sebagai berikut :).

Anda pernah mengalami stres saat akan menghadapi ujian? Mungkin anda merasa cemas, apakah anda dapat melewati ujian dengan baik atau tidak. Nah, di sini ujian adalah suatu situasi yang anda maknai sebagai suatu bahaya karena anda dituntut untuk melewati ujian dengan baik. Tanpa anda sadari, anda 'mempertanyakan' apakah kemampuan anda memadai untuk dapat melewati ujian dengan baik atau tidak. Inilah yang membuat anda menjadi stres. Stres anda dapat berupa stres negatif maupun positif. Telah saya jelaskan di atas bahwa stres adalah tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Ketika anda membiarkan stres anda saat akan menghadapi ujian begitu saja, tanpa ada usaha untuk belajar dan anda hanya sekedar mengatakan "aduh stres nih mau ujian", berarti anda mengalami stres negatif. Tetapi bila anda mengatasi stres anda saat akan menghadapi ujian dengan belajar, maka anda mengalami stres positif.

Lalu mengapa saya mengatakan bahwa stres merupakan salah satu kunci keberhasilan?

Kawan, stres adalah hal yang manusiawi. Ketika kita dihadapkan pada suatu situasi yang kita anggap mengancam atau berbahaya, pasti kita akan bertanya pada diri kita sendiri apakah kita mampu menghadapi situasi tersebut atau tidak. Hal inilah yang menimbulkan stres. Tapi justru dari stres inilah kita melakukan langkah awal untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Coba bayangkan ketika anda akan menghadapi ujian yang penting, seperti SPMB atau UM dan anda tidak mengalami stres sama sekali! Mungkin anda akan bersikap masa bodoh dengan ujian itu. Namun bila anda mengalami stres saat akan menghadapi ujian tersebut, itu menandakan bahwa anda akan menghadapi situasi yang penting dan berbahaya, sehingga anda terdorong untuk melakukan berbagai upaya positif agar anda dapat menghadapi ujian dengan baik.

Jadi, stres adalah tuntutan pada seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa stres kita hanya akan menjadi orang yang diam di tempat, tidak akan pernah bisa maju, karena kita tidak menyelaraskan diri kita dengan tuntutan lingkungan. Hanya saja, satu hal yang perlu diingat adalah kelolalah stres secara positif, karena ketika stres itu dikelola dengan positif, kita dapat mengoptimalkan seluruh kompetensi kita. Dan ketika kompetensi kita sesuai dengan tuntutan, maka kita juga akan meraih hasil yang optimal :).


Minggu, 10 Oktober 2010

MUNGKINKAN SETIAP HAL YANG INGIN ANDA CAPAI!

Berikut ini kata-kata bijak pembangkit motivasi dari Mario Teguh yang ingin saya share kepada anda. Semoga bermanfaat :).

Anda hanya sebesar yang mungkin bagi anda.

Janganlah berkata tidak mungkin bagi yang ingin anda capai.

Pembatasan pertama bagi yang mungkin anda capai dimulai dari pendapat anda sendiri mengenai yang mungkin atau yang tidak bagi anda.

Segera setelah anda memutuskan sesuatu itu mungkin anda capai, anda akan menggunakan seluruh kemampuan pikiran dan perasaan anda untuk membuktikan bahwa itu tidak mungkin.

Dan hebatnya, setelah itu anda akan memulai proses mengeluh dan mengasihani diri sendiri yang merasa tidak diperlakukan adil oleh kehidupan ini.

Maka, janganlah anda menggunakan pikiran dan perasaan anda sebagai pembatal kemungkinan bagi yang ingin anda capai.

Apapun yang ingin anda capai, mungkinkan!

Hmmm… awalnya saya sedikit bingung membaca tulisan di atas, hehe :p. Tapi saya mencoba mencerna kata-kata di atas supaya lebih mudah dipahami. Kurang lebih seperti ini maksudnya:

Ketika kita ingin mencapai sesuatu, kualitas dari pencapaian itu tergantung dari seberapa besar kemungkinan pencapaian itu dalam diri kita. Kalau kita menganggap hal itu MUNGKIN untuk dicapai, maka janganlah kita hanya menggunakan pikiran dan perasaan kita untuk mencapai keMUNGKINan itu. Kita harus meMUNGKINkan pencapaian itu dengan usaha nyata dan kerja keras, bukan dengan pikiran dan perasaan.

Sudah cukup jelas? Atau malah semakin bingung?

Hhhh… kalau masih bingung, mungkin intinya seperti ini: APAPUN YANG INGIN ANDA CAPAI, YAKINLAH BAHWA ITU MUNGKIN ANDA CAPAI. JANGAN HANYA MENGHINDARI YANG TIDAK MUNGKIN, KARENA DENGAN MENCOBA SESUATU YANG TIDAK MUNGKIN, ANDA BISA MENCAPAI YANG TERBAIK DARI YANG MUNGKIN ANDA CAPAI.

Semoga semua menjadi lebih jelas ^^.

MASA LALU + RASA TAKUT = BERANI + SUKSES

Setiap orang pasti memiliki masa lalu, entah itu masa lalu yang menyenangkan maupun menyakitkan. Mario Teguh pernah berkata bahwa masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Anda tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan anda sampai anda melupakan kegagalan dan rasa sakit hati anda di masa lalu.

Kawan, kita tidak akan pernah bisa melangkah maju bila kita masih terus dibayang-bayangi oleh masa lalu yang menyakitkan. Saya pernah membaca sebuah tulisan dari orang yang tidak saya kenal (hasil ngintip facebook orang lain :p) yang menyebutkan, jadikanlah masa lalu yang menyakitkan sebagai pelajaran hidup. Intinya, orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu dan orang-orang yang masih terus belajar akan menjadi pemilik masa depan.

Hmmm… sebenarnya tidak semua masa lalu adalah sesuatu yang menyakitkan dan identik dengan kegagalan atau hal lain yang menandakan bahwa masa lalu itu harus dilupakan. Seperti telah saya sebutkan di atas bahwa ada juga masa lalu yang indah dan menyenangkan. Meskipun hidup tak selamanya indah, tapi yang indah itu akan selalu hidup dalam kenangan. Kalau boleh jujur, saya lebih senang menyebut bahwa masa lalu yang indah ada untuk dikenang dan masa lalu yang pahit ada untuk dijadikan pelajaran hidup. Jadi, tidak semua masa lalu harus dilupakan :).

Well, saya yakin seandainya anda memiliki masa lalu yang menyakitkan, tentunya anda tidak ingin menjadi pemilik masa lalu dan hidup dalam ketakutan untuk membuka lembaran baru kan? Tapi terkadang untuk kembali melangkah menuju masa depan, itu bukanlah hal yang mudah. Rasa takut mungkin saja muncul dalam diri anda. Namun, jangan menyalahkan rasa takut anda. Syukurilah rasa takut itu. Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakuti. Maka, bila merasa takut anda punya kesempatan untuk bersikap berani dan janganlah membuang kesempatan itu dengan percuma :).

Seringkali ketika kita mencoba bangkit, kita takut untuk gagal. Padahal, tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

Jadi, kawan, ketakutan karena masa lalu adalah hal yang wajar. Justru dengan rasa takut itu kita membangun kesempatan untuk bersikap berani. Ketika keberanian telah tumbuh dalam diri kita, janganlah takut untuk gagal, sebab dengan kegagalan itu kita menemukan kesempatan untuk meraih kesuksesan :).

Let’s do the best! ^^

Sabtu, 09 Oktober 2010

PRIVATE TOPIC!!! UUPPSSS...

Obrolan yang sangat intim terjadi antara saya dan teman-teman saya hari ini di kampus. Entah bermula dari mana, tiba-tiba pembicaraan kami mengarah pada hal-hal yang (kata orang dulu) bersifat tabu. Tapi menurut saya hal tersebut sudah tidak lagi menjadi tabu untuk diperbincangkan karena kita pun harus mengacu pada perkembangan zaman. Ya, saat ini segala hal sifatnya sudah ‘terbuka’, maka kita pun harus menambah pengetahuan kita agar tidak ‘dibodohi’ oleh kemajuan zaman :).
 
Saya rasa anda sudah menangkap hal tabu yang saya dan teman-teman saya bahas :p. Hmmm… supaya tidak terlalu ekstrem, saya lebih senang menyebut topik yang kami bahas tadi pagi sebagai pendidikan seks. Awalnya, mungkin bagi anda yang jarang memperoleh informasi seputar seksualitas atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan bertemakan seksualitas, anda akan merasa risih ketika membahas masalah ini. Tapi marilah kita mengambil sisi positif dari setiap pembelajaran yang kita lakukan :).

Yang ingin saya share di sini bukanlah mengenai isi pembicaraan kami (terlalu vulgar untuk diekspos, haha :p), melainkan pentingnya pendidikan seks sejak dini, terutama dari lingkup keluarga. Coba anda ingat, apakah keluarga anda pernah memberikan pendidikan seks kepada anda? Saya pernah melakukan wawancara dengan sejumlah pelajar SMA di Semarang dan mereka mengatakan bahwa mereka tidak mendapat pendidikan seks dari orangtua. Sebagian besar pengetahuan mengenai seksualitas mereka peroleh dari teman dan media, seperti internet.

Kebanyakan orangtua masih menganggap bahwa membicarakan masalah seks dengan anak adalah hal yang tabu. Mereka hanya memberikan nasihat “jangan begini”, “jangan begitu”, “harus bisa menjaga pergaulan”, de el el. Ketika anak gadisnya mendapat menstruasi pertama pun, banyak ibu yang tidak mengajarkan bagaimana cara memakai pembalut yang baik. Padahal itu merupakan salah satu bentuk pendidikan seks yang paling sederhana. 

Sebagian besar orangtua meyakini bahwa anak akan mengetahui sendiri hal-hal tersebut bila tiba waktunya.Namun, orangtua melupakan satu hal. Dengan membiarkan anak mencari tahu sendiri, bisa saja informasi yang diterima anak salah. Buktinya saat ini banyak remaja yang terlibat seks bebas. Hal tersebut salah satunya disebabkan kurangnya kontrol dari orangtua, yang membebaskan anak begitu saja tanpa disertai dengan pendidikan seks yang cukup.

Kawan, angka kehamilan tidak diinginkan dan aborsi di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Seharusnya hal tersebut dapat menjadi bahan telaah kita bersama: Mengapa hal itu bisa terjadi? Maraknya media yang menayangkan adegan tidak senonoh, ditambah dengan kurangnya pendidikan seks sejak dini menjadi salah satu faktor penyebab yang amat kompleks. Di sebuah TK Islam di Semarang, seorang anak TK diketahui melakukan tindakan cabul terhadap teman perempuannya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, dimana seorang anak kecil pun sudah mengenal dan melakukan ‘perilaku seksual bebas’.

Kawan, fenomena-fenomena yang terjadi saat ini terkait dengan seks bebas perlu menjadi bahan evaluasi kita semua. Seringkali orangtua merasa kesulitan menyampaikan hal yang berbau seksual kepada anak. Bagi balita, mungkin pendidikan seks dapat dilakukan dengan memperkenalkan alat kelamin mereka sendiri, mengatakan kepada anak bahwa alat kelaminnya itu tidak boleh disentuh orang lain, memberi tahu anak bahwa setiap selesai mandi ia harus menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi, dan pengenalan-pengenalan sederhana lainnya. Yang terpenting adalah orangtua harus menyesuaikan isi dan cara penyampaian sesuai dengan usia anak. Di sinilah orangtua memang perlu terlibat aktif dan bekerja keras dalam memberikan pendidikan seks pada anak sedini mungkin.

Hmmm… kawan, terus terang saya pun tidak pernah mendapat pendidikan seks dari orangtua saya di rumah. Orangtua hanya sekedar memberi nasihat dan akibat-akibat negatif bila saya melakukan hal yang buruk. Mungkin pemikiran orangtua saya juga sama dengan pemikiran orangtua-orangtua lain, dimana mereka menganggap saya akan mengetahui masalah-masalah seperti itu ketika tiba waktunya. Tapi di sini, keterbukaan orangtua berperan penting. Artinya, ada orangtua yang memang tidak memberikan pendidikan seks secara langsung, namun mereka bersikap terbuka untuk mendiskusikan hal itu dengan anak bila anak meminta. Akan tetapi, ada juga orangtua yang tidak memberikan pendidikan seks dan mereka bersikap tertutup akan hal itu, sehingga anak pun mungkin merasa takut untuk mendiskusikannya dengan orangtua. Akibatnya, anak memilih untuk membicarakannya bersama teman dan apabila informasi yang diterima ternyata salah, maka tidak menutup kemungkinan anak akan melakukan perbuatan menyimpang.

Dan orangtua saya melakukan hal yang pertama: tetap bersikap terbuka. Tapi saya pernah melakukan wawancara dengan sejumlah remaja, dimana mereka mengatakan bahwa orangtua mereka bersikap tertutup terhadap hal-hal yang berbau seksual. Tapi remaja tersebut menyadari bahwa seks bebas adalah sesuatu yang haram. Nah, di sini kita menemukan fakta bahwa selain pendidikan seks dan keterbukaan keluarga, pendidikan agama dan kesadaran diri sendiri juga menjadi kunci untuk menjauhkan diri dari seks bebas.

Kawan, menurut saya membaca buku ataupun artikel seputar seksualitas bukanlah hal yang tabu ataupun memalukan selagi kita mampu membentengi diri kita dengan iman yang kuat (soalnya bahaya juga kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan :p). Saya cukup sering membaca hal-hal seperti itu dan terlibat diskusi dengan teman-teman saya. Ya… tujuannya sih untuk menambah pengetahuan agar tidak seperti orang ‘polos’ yang mudah ‘dikerjai’ :p.

Jadi, pendidikan seks bukanlah hal yang tabu, tetapi memang perlu dan sangat dibutuhkan. Janganlah membatasi diri kita untuk belajar dan mengetahui banyak hal. Pelajarilah semua hal yang dapat dipelajari dan ambillah nilai positif dari setiap pembelajaran yang kita lakukan :).